15.1.13

Sang Baja Hitam Azwa 1...


Kesal tak jarang selalu bergelora didadaku kala aku menghadapi makhluk-makhluk kecil itu. Tarikan nafasku benar-benar tak terhitung. Teriakan hatiku pun seolah ingin terus mengalir.

Taukah manakala aku berhadapan dengan mereka? Menangis dalam hati. Berteriak kecil pun dalam hati. Berlari ditempat dalam hati. Berputar ditempat dalam hati. Berulang-ulang kali ingin menarik nafas. Beristigfar lagi. Lagi dan lagi. Terus seperti itu saat berhadapan dengan mereka.

Tapi, diberapa detik kemudian terkadang aku merasa penuh syukur telah dihadirkan mereka dalam kehidupanku. Tak jarang aku tersenyum dalam canda tawa dan tingkah aneh mereka. Begitu dalam aku merasakan keindahan dalam mendekap mereka. Dalamnya aku rasakan sayang yang tulus untuk mereka. Terkadang aku tak malu untuk mengatakan aku sayang mereka.

Sungguh mereka makhluk-makhluk kecil yang tak pantas mendapat perlakuan kasar. Sekali pun mereka teramat sangat kasar. Mungkin karena meniru tingkah orang dewasa yang tidak mereka sadari betul bahwa itu tingkah yang tidak pantas mereka lakukan.

Sungguh mereka makhluk kecil yang teramat membutuhkan bantuan kita. Uluran tangan lembut kita, sangat mereka butuhkan. Kasih sayang kita teramat mereka butuhkan.

Aku sangat merasakan betapa berharganya mereka. Sekalipun begini dan sekalipun begitu. pada dasarnya mereka begitu berarti dalam hidup kita.

Itulah mereka anak-anak kecil imut dan lucu yang dihadirkan Tuhan untukku. Untuk menghias hari-hariku. Untuk mewarnai jiwaku. Untuk memberi makna keceriaan dalam hidupku. Untuk memberikan pelajaran berharga bahwa mereka begitu berharganya dengan segala keterbatasannya.

Wajar saja jika terkadang aku merasa begitu jengkel. Mumet dalam menghadapi mereka. Suwer deh kesel derajat tingkat tinggi kalau sudah menghadapi mereka. Tapi walau begitu berjuta kali rasanya aku harus mengatakan terimakasih untuk membayar seluruh kebahagiaan yang tak aku temui ditempat lain selain saat-saat kebersamaan bersama mereka, makhluk-makhluk kecil itu. Hoho..

Kini lihatlah bagaimana aksi mereka didalam kelas. Penuh dengan keceriaan. Penuh dengan intrik yang memikat dan memukau. Penuh dengan warna-warni keanehan khas anak-anak. Penuh dengan segala hal yang menarik untuk diperhatikan.

Azwa. Nama lengkapnya Az- Zahruf Izazuda Azwa, ntahlah apa artinya. Apa pula pengaruh sebuah nama pada tingkahnya itu. Kurasa perlu aku tanyakan juga nanti pada kedua orang tuanya. Hee.. ^_^ usianya masih empat tahun. Jumpa pertamaku dengannya. Tak banyak yang aku komentari selain badannya yang agak sedikit subur atau lebih tepatnya lagi buntet. Hehe.. ketika hendak menyapanya. Tidak kutemukan wajah malu untuk berinteraksi dengan lawan bicaranya. Bahkan lebih agresif. Sejurus pertanyaan aku lontarkan padanya, tak ragu diapun menjawab pertanyaan dengan gaya khasnya bercerita, walau diselingi dengan patah-patah kalimat emmm.. “nama aku emmm... azwa. Az-zahruf Izazuda Azwa, emm.. citacita aku menjadi seorang kapiten emm.. yang mempunyai pedang panjang. Emm.. Aku punya bunda dan ayah”. Haha.. lucu sekali dia ituuuu... Itu kan potongan sebuah lagu. Hihi.. begitulah cara azwa berkenalan dengan ku juga dengan kawan-kawannya disini.

(to be continue)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar