25.1.12

Perjalanan Malam Itu...

Semakin lama terpaku di layar monitor membuatku semakin buntu menyusun kata.. aku coba gerakan tanganku. Membiarkannya menari-nari bebas di atas tuts keyboard..

Terkadang beruntung jika ada yang berani keluar dari otakku. Tapi terkadang juga tidak. Jika harus membiarkanku cukup lama dalam sebuah perenungan panjang tentang apa yang ingin aku tuangkan dalam tulisan ini. Itu siksaan untukku.
Ntah harus memulai dengan kata apa. Aku bingung. Sebingung hari ini.

Tuhan tau betapa aku bingung????

Semalam aku berjalan dengan beriramakan alam. Dalam gelap yang dingin. Padahal handphoneku mengabariku saat itu pukul 8 malam. Benar-benar malam kawan. Tapi aku katakan aku memang cukup berani malam itu. Walau selalu saja bayangan-bayangan kejahatan malam kian menari-nari dalam pikirku. Aku terus melagu dalam lantunan doa malam itu. Semoga Tuhan senantiasa menuntun jalan ku malam itu.

Semakin gelap aku pun semakin takut di buatnya. Sangat mengerikan. Malam jum’at. Aku melewati keheningan. Diamnya pepohonan yang tak satu pun menemani langkah sepiku malam itu. Aku tak mampu berkata-kata. Untuk bernyanyi pelanpun tak sanggup. Aku hanya berdendang doa yang kian kencang pada Rabb ku.

Itu adalah perjalanan malamku sepulang mengaji. Sore itu aku harus menempuh jarak sekian jauhnya. Dari Ramayana ke rumah (jangan tanya berapa jarak nya! karena aku tak pandai mengukur ato bahkan mengira-ngira berapa jaraknya. ^_^). Puluhan rumah harus ku lewati. Pepohonan ntah berapa pohon yang ku lalui. Ntah berapa toko yang ku lewati juga. Ntahlah serba ntahlah. Aku hanya ingin cepat sampai. Melewati jalanan yang semakin hening dan menawarkan aneka tusukan tajam lewat air hujan yang merembes kian tajam lewat bajuku. Aku diam terus melangkah. Tubuhku semakin lusuh. Kaku, dingin karna tusukan air hujan yang menampar-nampar wajahku.

Sore itu tekatku bulat dan kuat untuk pergi mengaji walau jarak ke tempat pengajian begitu jauh. Dan tak mungkin bisa di tempuh dengan waktu yang sempit dengan berjalan kaki, mengingat jaraknya begitu jauh. Walau kakiku kuat untuk aku langkahkan tapi percuma saja karna waktu nya begitu terbatas.

Akupun tak mundur hanya karna aku tak punya uang untuk ongkos jalanku menuju tempat mengaji ku. Aku tidak memutuskan untuk diam saja dirumah. Tidak!!!
Akhirnya aku berusaha mecari pinjaman pada sahabat baikku. Alhamdulillah akhirnya aku dapatkan. Namun sayangnya, aku hanya mendapatkan pinjaman dua ribu rupiah yang hanya bisa membawaku setengah perjalanan. Tapi untunglah aku punya untuk 2kali naik mobil. Hm, perjalanan ku menuju tempat mengajiku membutuhkan ongkos 8ribu untuk 4 kali naik mobil pulang dan pergi. Akhirnya aku pun bisa berangkat mengaji.

Lega rasanya aku dapat pinjaman.

Walau pulang nya aku harus berjalan kaki menuju rumah dalam gelap dan dinginnya malam. Aku tak boleh kalah dengan keadaan kecilku saat ini. Aku harus lawan semua rintangan ini. Harus!

Sepanjang jalan aku terus berbisik pada yang Kuasa. Meminta perlindungan dari makhluk-makhluk jahat yang hendak menikamku. Baik manusia atau jin. Sama saja.
Ntah berapa rajutan doa yang meluncur kelangit malam itu. Tiap langkah satu nafas satu doa. Itu ku rajut penuh harapan. Penuh pengharapan padaNya.
Gusuran kakiku semakin membawaku dekat dengan tempat kediamanku. Rumah. Istana bagiku. Tempat singgahku didunia ini. Disana aku tinggal bersama ayah dan ibuku. Aku sayang mereka.

Sampai rumah. Ku banting lembut tas gendong ku karna lelah ke kasur. Tapi tubuhku tidak boleh langsung ku banting ke tempat empuk yang aduhai itu. Karna basah kuyup. Dari ujung kepala ke ujung kaki. Kerudung, jaket, jilbab, kaos kaki semua kusut masai. Jibruks kalo kata orang sunda mah.

Langsung ke kamar mandi. Ganti pakaian. Wudu. Dan kembali ke kamar untuk segera shalat isya. Habis itu ya, kembali menerawang apa yang aku lalui siang tadi. Lantas meraih buku bacaan dan menelisik kesela-sela alunan mimpi. Berharap mimpi indah malam itu. Harapan...

“TUHAN MALAMMU TELAH DATANG.....”
Terlelap lah aku....
^_^ hawra al’aen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar